Rektor Universitas Sumatera Utara (UMSU) Dr Agussani MAP mengatakan, kalangan perguruan tinggi (PT) tidak perlu khawatir menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016, mengingat hal ini merupakan kesepakatan negara-negara ASEAN dalam memacu kemajuan dalam segala bidang.

“Gagasan MEA yang sudah didesain sejak KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003, sudah tidak mungkin ditunda lagi dan insya Allah dilaksanakan di tahun 2016 ini. MEA 2015 diikat dalam suatu payung hukum Piagam ASEAN yang ditandatangani para pemimpin negara ASEAN pada tahun 2007. Jadi mari kita hadapi dengan optimistis,” kata Agussani  di kampus utama UMSU, Jalan Kapten Mukhtar Basri, Medan, Selasa (4/1).

Dijelaskannnya, berdasarkan Direktori Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Sumatera Utara (Sumut) tahun 2014, sebanyak 253 PTS di Sumut yang meliputi universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik merupakan peluang besar untuk bersatu menghadapi MEA, karena sudah memiliki profil lulusan masing-masing.

Dia yakin, PTS Sumut Sumut siap menghadapi MEA jika terus-menerus bahu membahu berbagi pengetahuan hard skill dan wawasan orientasi kualitas dalam menghasilkan lulusannya. Selain itu, harus ada pembekalan soft skill¸seperti kemampuan berkomunikasi, leadership, kemampuan beradaptasi, etos kerja, serta kemampuan tambahan berbahasa asing.

“Kemudian, PTS harus menguasai teknologi informasi dengan baik dan melaksanakan program Peraturan Presiden RI Nomor 8 Tahun 2012 tentang Penerapan Kurikulum Berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia atau KKNI guna meningkatkan daya saing,” kata Agussani yang juga Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi) Sumut.

Khusus UMSU, katanya, pihaknya telah mencanangkan dan melaksanakan penguatan sumber daya manusia (SDM) guna menghasilkan lulusan yang berkompeten sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan dalam menghadapi MEA.

“UMSU telah mencanangkan penguatan kemampuan bahasa Inggris bagi para lulusannya. Paling tidak lulusan UMSU menguasai TOEFL dan mampu berinteraksi dengan pihak luar,” ungkapnya.

Indonesia sendiri, kata Agussani, sudah mencanangkan masa ‘menanam’ generasi emas sejak 2012 lalu. Mendikbud (saat itu) Muhammad Nuh mengatakan, dari 2012-2035, Indonesia mendapat bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia produktif paling tinggi diantara usia anak-anak dan orang tua.

“Bonus demografi ini menggambarkan situasi bahwa jumlah penduduk usia produktif 15-60 tahun lebih tinggi daripada usia nonproduktif.  Secara teoritis ini bermakna lebih banyak output nasional yang bisa dihasilkan karena angkatan kerja lebih banyak dari yang bukan angkatan kerja,” urai peraih doktor dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini.***

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here