Masyarakat Belum Miliki Kesadaran Jaga Rupiah

Masyarakat belum memiliki kesadaran yang tinggi menjaga mata uang rupiah agar tidak rusak sehingga Bank Indonesia (BI)  agak kesulitan untuk menerapkan seperti pada mata uang dolar dan Malaysia.

“Saya harapkan mahasiswa dan masyarakat luas turut menjaga mata uang rupiah sebagai bagian dari menjaga harkat bangsa Indonesia,”  kata  Kepala Bank Indonesia Perwakilan Medan Difi  A. Joehansyah dalam kuliah umum yang diadakan Fakultas Ekonomi di Aula Kampus UMSU Jalan Kapt. Mukhtar Basri, Rabu (9/11), Kuliah umum yang digagas Fakultas Ekonomi UMSU   dibuka Rektor melalui Wakil Rektor I, Dr Muhammad Arifin, SH, M.Hum dihadiri Dekan, Zulaspan Tupti, SE, MM, Wakil Dekan I FE UMSU Januri,SE, MM,  Wakil Dekan III Ade Gunawan, SE, MSi serta ratusan mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Bank Indonesia mengajak mahasiswa dan masyarakat menghargai harkat mata uang rupiah dengan tidak merusak, mencoret dan melipat-lipat.

“Dengan menjaga setiap mata uang terutama pecahan kertas, hal itu sama dengan menjaga harkat bangsa Indonesia,” katanya menanggapi pertanyaan  mahasiswa tentang kebijakan BI dalam melindungi mata uang dari kerusakan. Sementara kuliah umum ini mengangkat tema “Kebanksentralan dan Perkembangan Perekonomian serta Sosialisasi ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah. .

Menurut Difi, bangsa ini tidak menghargai satuan-satuan rupiah yang terendah. Berbeda dengan Malaysia, masih menggunakan satuan sen dalam transaksi. Di Indonesia justru praktik sebaliknya dilakukan pemerintah dalam bentuk menaikkan tarif sampai melompat seratus persen bahkan dua ratus persen oleh pemerintah kepada masyarakat seperti tarif parkir dari Rp1.000 jadi Rp2.000. Jika demikian harkat mata uang rupiah akan terus lemah.
Bank Indonesia mengajak mahasiswa dan masyarakat menghargai harkat mata uang rupiah dengan tidak merusak, mencoret dan melipat-lipat.

Alur devisa liberal

Menanggapi pertanyaan mahasiswa mengapa utang Indonesia tidak berkurang sementara keuntungan dari kebijakan tax amnesty mencapai 1.000 triliun tambah pajak lainnya, Difi menyampaikan alur devisa di Indonesia sangat liberal. Tidak ada keharusan orang menukarkan devisanya ke rupiah. Hal itu diatur dalam UU No 24 tahun 1999 yang menjamin kebebasan devisa.

“Negara kita paling bebas dibanding Malaysia dan Thailand, sementara BI hanya berfungsi sebagai monitoring dan penerima laporan peredaran devisa saja,” katanya seraya menambahkan kebijakan itu didasari bahwa dulu kita membutuhkan dolar.

Sementara solusi memperkuat mata uang rupiah dengan menerapkan redenominasi belum efektif diterapkan di Indonesia karena politik kita belum stabil.
BI memperkirakan jika kita berhasil menerapkan redenominasi, mata uang dan ekonomi kita bisa kuat seperti Turki  tetapi menunggu 30 tahun baru sukses.

Satu jam lebih Difi memberikan kuliah umum di hadapan ratusan sivitas akademika UMSU. Pada akhir ceramahnya, Difi mengatakan ingin kembali datang ke UMSU untuk lebih lama lagi memberikan kuliah umum karena mahasiswa begitu antusias mengikuti acara itu.

Wakil Rektor I Dr Muhammad Arifin  mengatakan, kerjasama BI dan FE UMSU dalam melaksanakan kuliah umum ini sangat strategis. Mahasiswa dan sivitas akademika mendapatkan sumber utama tentang kebanksentralan dan kondisi perekonomian bangsa terkini. UMSU sama dengan BI mengharapkan jalinan kerjasama  yang sudah lama ini agar baik.
Dekan FE UMSU, Zulaspan Tupti mengatakan kuliah umum ini momentum yang baik dan bentuk penghormatan bagi fakultas favorit dengan jumlah mahasiswa 9.000 orang yang tersebar di empat prodi.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.