Tingkat kebahagiaan masyarakat Indonesia dinilai rendah atau berada pada posisi 79 dunia. Yang paling memprihatinkan adalah nilai kepercayaan (trust) Indonesia  nol.

Kondisi ini cukup memprihatinkan. Untuk itu pemerintah harus segera mengubah paradigma pembangunan. Kunci utamanya adalah pada trust based atau membangun kepercayaan rakyat (civic trust).

Mantan Duta Besar RI di Skandinavia dan Demnark Prof Dr Bomer Pasaribu, SH, MS dalam kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara ( UMSU), Kamis (23/11), menjelaskan pemerintah harus menghentikan korupsi, ketidakadilan, ketimpangan dan ketidakjujuran (4K)

“4K membuat krisis kepercayaan rakyat sebagai salah satu indikator rendahnya peringkat kebahagiaan di Indonesia sebagaimana laporan Kebahagiaan Dunia tahun 2016,” kata dosen UMSU tahun 1980-an ini. Turut hadir WR I Dr Muhammad Arifin Gultom, Sekretaris Universitas Gunawan, M.Th, Dekan FISIP Drs Tasrif Syam, M.Si, Ketua Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial Dr Arifin Saleh Siregar, pimpinan fakultas, Prodi, dosen serta ratusan mahasiswa.

Prof Bomer  yang juga Menaker pada era Presiden Soeharto mengaku prihatin  praktik korupsi yang melilit bangsa ini. Mana ada negara di dunia yang Ketua Mahkamah Konstitusinya, jaksa, polisi, Ketua DPR, menteri, kepala daerah serta anggota partai di dalam legislatif yang”sekolah”. Selain itu mana ada sistem peradilan yang terpercaya kecuali di Indonesia yang begitu banyak terlibat korupsi. Di sini (lembaga-red) seolah-olah inti penegakan hukum justru terjadi penyelewengan hukum.

Prof Bomer memberikan solusi sudah saatnya pemerintah mengubah paradigma pembangunan sehingga dapat mewujudkan kebahagian masyarakat dengan mencontoh seperti negara Skandinavia dan Denmark berada pada ranking teratas dunia dalam perwujudan kebahagian di negaranya. Dua negara itu juga mengalahkan indeks ekonomi pada negara-negara Islam yang notabene konsep pembangunan Islam banyak diadopsi negara non muslim itu.

Menurut Prof Bomer, marilah pembangunan dimulai dari aspek sumberdaya manusia. Ada paradigma pembangunan yang mana “hukum besi” pembangunan disesuaikan dengan ajaran Islam yang menyatakan manusia adalah khalifah di muka bumi. Artinya, manusialah dari segala inti pembangunan. Manusia untuk pembangunan dan pembangunan untuk manusia. Kemudian berdasarkan hukum besi ini adalah belajar seumur hidup. Ini adalah ajaranagama. “Life long learning dan lesson learn ternyata mereka ( Denmark dan Skandinavi-red) praktikkan,” katanya. Selain itu pintar mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Islam pada bidang politik, ekonomi, sosial, budaya serta pendidikan sehingga terwujud manusia yang trust based society yang terpercaya, jujur dan yang memiliki sembilan dimensi dalam melingkupi kompetensi antara lain integritas, disipilin dan respek.

Prof Bomer mengajak para insan akademis dan Muhammadiyah untuk mendorong implementasi paradigma pembangunan baru yang tidak hanya berorientasi pada GDP dan PDP perkapita melainkan pembangunan yang berbasis ajaran Islam dan berorientasi pada trust based. Prof Bomer tidak ingin pembangunan bangsa yang berjalan saat ini penuh paradoks dan dilema yakni tingkat pertumbuhan demokrasi semakin baik malah praktik korupsi semakin para, padahal demokrasi menggerakkan pengawasan  dari seluruh elemen bangsa.

Sebelumnya Rektor UMSU Dr Agussani, MAP diwakili WR I Dr Muhammad Arifin Gultom membuka kuliah umum ini dan menyatakan UMSU selama ini berperan dan turut memberikan kontribusi pemikiran untuk pembangunan bangsa agar lebih baik, salah satunya  mendukung konsep pembangunan yang mensejahterakan rakyat. UMSU yakin melalui pemikiran Prof Bomer Pasaribu dapat memberikan wawasan kritis bagi sivitas akademika dan pemerintah dalammewujudkan pembangunan yang sejahtera.

Sementara itu, Dekan FISIP UMSU Drs Tasrif Syam, M.Si dalam sambutannya mengatakan, perubahan paradigma pembangunan dari GDP dan PDP per kapita ke arah Peningkatan Indeks Kebahagiaan (Gross National Hapiness) sudah sangat mendesak pada bangsa ini. Untuk itu kehadiran Prof Bomer Pasaribu mengisi kuliah umum patut diapresiasi. Setelah kuliah umum ini diharapkan ada tindaklanjut dalam bentuk MoU. Kuliah umum yang belangsung tiga ini dihadiri ratusan peserta dan diakhiri dengan tanya jawab serta saling tukar cenderamata dan penyerahan buku karangan Prof Bomer kepada UMSU.​