Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sumatera Utara (MUI Sumut) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar Seminar Internasional “Titik Nol Islam di Indonesia.

Kegiatan yang dibuka Gubernur Sumatera Utara, diwakili Kepala Balitbang Provsu Ir H Irman MSi diselenggarakan di Auditorium Pascasarjana UMSU, Jl Denai No 217, Medan, Selasa (15/10).

Narasumber yang dihadirkan dalam seminar internasional ini terdiri dari empat orang pakar, yakni Prof Dr Zain Musa PhD (Malaysia), Prof Dr Rusmin Tumanggor MA (Jakarta), Prof Dr Usman Pelly (Medan) dan Dr Phil Ichwan Azhari MSi (Medan).

Rektor UMSU Dr Agussani MAP memberikan apresiasi atas pelaksanaan seminar internasional “Titik Nol Islam di Indonesia” kerjasama UMSU dan MUI Sumut. UMSU sebagai institusi perguruan tinggi di Sumut merasa terhormat dipercaya untuk menyelenggarakan kegiatan seminar internasional yang sangat penting ini.

Agussani menegaskan, sudah menjadi komitmen UMSU untuk senantiasa terbuka menjalin kerjasama dengan pihak manapun dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan konstruktif guna memajukan peradaban.

“Ini selaras dengan visi UMSU, yakni membangun peradaban bangsa dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan sumber daya manusia berdasarkan al-Islam dan Kemuhammadiyahan, tentunya kita sangat mendukung acara seminar internasional ini,” katanya.

Ia juga mengungkapkan rencana UMSU untuk mendirikan Cabang Observatorium Ilmu Falak (OIF) di Barus. Dijelaskannya, OIF adalah salahsatu pusat unggulan yang dimiliki UMSU sebagai perguruan tinggi swasta terbaik, bukan hanya di Sumut, tapi juga di pulau Sumatera.

“Semoga rencana pendirian cabang OIF ini nantinya bisa mendukung pengembangan destinasi Barus sebagai Titik Nol Islam di Indonesia,” sebutnya.

Ketua Panitia seminar Prof Dr Hasan Bakti Nasution MA didampingi Dekan Fakultas Agama Islam UMSU, Dr Muhammad Qorib, MA dan WD 1, Zailani, SPdI, MA menjelaskan, pelaksanaan seminar internasional ini berangkat dari kesadaran pentingnya mewujudkan visi Sumut yang bermartabat twrmasuk dalam aspek kesejarahan di satu sisi dan visi Indonesia yang maju di sisi lain.

“Sumut bermartabat itu harus dibangun di atas berbagai variable martabat, yakni bermartabat semua aspek kehidupan , sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya, termasuk dalam aspek kesejarahan,” ujarnya.

Dijelaskan, posisi Sumut dengan Barus sebagai Titik Nol Islam di Indonesia yang monumennya diresmikan Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu menyimpan nilai kesejarahan yang tinggi. Keberadaan jejak peradaban masuknya Islam di Indonesia memiliki nilai penting untuk dikaji bersama guna menumbuhkan kesadaran sekaligus motivasi dalam pembangunan.

Namun, kata Hasan, hingar bingar peresmian tersebut sepertinya tidak ada upaya tindak lanjut yang jelas, untuk diapakan monumen itu. Akankah ia hanya sekedar monument sejarah, atau dijadikan sebagai pemicu untuk mewujudkan Sumut bermartabat.

“Seminar ini kita harapkan akan mewujudkan harapan tersebut,” katanya.

Kemudian Ketua MUI Sumut Prof Dr Abdullah Syah MA dalam sambutannya berharap kegiatan seminar ini nantinya bisa melahirkan hasil yang bermanfaat untuk kemajuan ummat Islam, khususnya di Sumut.

“Karena itu saya minta panitia seminar ini natinya bisa merangkum hasil seminar ini dan menerbitkannya dalam bentuk sebuah buku,” harapnya.

Secara keseluruhan, kegiatan seminar internasional ini berjalan lancar dan cukup dinamis. Ratusan peserta seminar yang berasal dari sejumlah elemen masyarakat dari Sumut dan Aceh tampak begitu antusias mendengarkandan menanggapi paparan dari para narasumber.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.