Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Gelar Webinar Akhir Ramadhan 1441 H dengan tema “Lebaran di Tengah Pandemi Covid 19” Sabtu (23/05).

Dalam seminar tersebut para narasumber mengajak Umat Islam untuk tidak memaksakan diri melakukan mudik secara fisik, tapi cukup menjalin silaturrahim secara spiritual dan virtual untuk mencegah penyebaran Virus Covid-19 agar tidak meluas. Silaturrahim spiritual juga tidak mengurangi makna dan semangat perayaan Idul Fitri 1441 H.

Hadir sebagai Narasumber Dr. Rudianto, S.Sos., M.Si selaku Wakil Rektor III UMSU, Dr. Muhammad Qorib MA selaku Dekan Fakuktas Agama Islam UMSU dan dr. Siti Masliana SP.,THT., KL selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran UMSU. Kegiatan ini di buka langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang diwakili Wakil Rektor I UMSU Dr. Muhammad Arifin SH., M.Hum dan diikuti oleh seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Dalam sambutannya, Rektor, Dr Agussani, MAP melaluu Wakil Rektor I menyebutkan kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan moment baru sepanjang berdirinya Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dalam masa pandemi ini segala kegiatan yang biasa dilakukan secara langsung namun kini dialihkan secara virtual sebagai bentuk kepatuhan terhadap peraturan pemerintah dan sami’na wa atho’na pada keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tentunya ini tidak mengurangi kekhidmatan dalam menyambut hari raya idul Fitri pada tahun ini setelah satu bulan lamanya berjuang menjalankan puasa dan ibadah Ramadhan.

“Semoga Allah lipat gandakan pahala ibadah yang kita lakukan dengan penuh keimanan dan ketaqwaan, Ujarnya.

Dr. Rudianto mengatakan lebaran virtual bukan hal mustahil dilakukan di masa pandemi covid-19 ini, melihat data yang menunjukkan sebanyak 338,2 juta gadget tersebar di masyarakat Indonesia dan terkoneksi secara digital, sehingga dalam hal ini masyarakat Indonesia sudah tidak asing dengan penggunaan aplikasi ataupun platform dalam melakukan kegiatan serta aktivitas sehari- hari termasuk salah satunya lebaran virtual.

Rudianto juga menjelaskan terdapat keuntungan dan juga kekurangan ketika melakukan komunikasi secara virtual. Keuntungan yang dimaksud dengan komunikasi virtual bisa memutus jarak (melakukan physycal distancing), meringankan prihal pembiayaan, dan dapat mengatur kualitas komunikasi . Adapun kekurangan dalam komunikasi virtual terjadi feed back yang tertunda, aspek-aspek non verbal tidak ada, dan sering terjadi permasalahan teknis dan sinyal.

Terlepas dari perdebatan berdamai atau tidak dengan pandemi covid-19 ini Rudianto berpandangan dalam sebuah insiden bencana yang terjadi pasti akan ada new normal setelahnya. Akan tetapi harus di pahami new normal akan terjadi kalau responnya sudah dilakukan. Namun hal ini agak sulit dilakukan di Indonesia mengingat Pemerintah Indonesia menginginkan new normal segera dilaksanakan namun respon dan recovery tak kunjung dilaksanakan. Dengan kata lain new normal di Indonesia masih berupa sebuah harapan, ujarnya.

Rudianto mengatakan ada beberapa hal yang terjadi ketika new normal dilakukan diantaranya masyarakat akan tetap berada di rumah dan hanya keluar jika ada hal penting dan mendesak, selalu safety dengan masker, handsanitizer dan menjaga kebersihan, terbiasa mencuci tangan minimal 30 menit sekali, terlatih menjaga jarak, menghindari transportasi umum dan lainnya. Dan tentunya dalam new normal dalam beraktivitas kita menggunakan video confrence, work from home, online shopping, e learning dan yang terpenting menerapkan pola hidup bersih dan sehat ujarnya.

Dr. Qorib dalam penyampaian sebagai narasumber webinar dengan topik “fiqih lebaran di tengah bencana” menyebutkan ada tiga terminologi yang berkaitan secara erat di masyarakat Indonesia menyangkut persoalan agama dan budaya diantaranya idul Fitri, halal bilhalal, dan lebaran.

Dia menjelaskan secara etimologi atau kebahasaan idul Fitri berasal dari dua akar kata yaitu id yang berarti kembali ( maksudnya kita pernah berada di suatu tempat , kita tinggalkan lalu kita kembali ketempat tersebut) dan Fitri. Terjadi dua kelompok dalam memaknai idul Fitri Mutasyaddiq dan Muktadil. Disebutkan makna idul Fitri ialah kembali kepada kesucian, kembali kepada naluri relegius, kembali di bolehkan makan dan minum untuk hal ini Muhammadiyah memaknai idul Fitri dalam tiga makna tersebut, Ujarnya.

Qorib mengatakan terminologi halal bilhalal tidak terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah namun berakar dari budaya Masyarakat Indonesia. Pakar islamic studies mengartikan halal bilhalal merupakan sebuah tindakan kita kepada orang lain dari yang haram kepada yang halal. Dengan kata lain menyelesaikan problem atau permasalahan dan mencairkan yang beku. Dan menurut KBBI yaitu maaf memaafkan. Namun untuk hal maaf memaafkan kita jangan sampai keliru karena beranggapan bahwa proses maaf memaafkan hanya di lakukan ketika idul Fitri saja, Ungkapnya.

Dalam memaknai lebaran Qorib berpendapat bahwa lebaran sendiri mengandung dua makna yaitu usai atau selesai yang berarti pertarungan melaksanakan puasa dan ibadah di bulan Ramadhan telah usai dilaksanakan dan lebur yang memiliki arti menghapus ( seolah-olah orang terlahir sebagai bayi kecil yang bersih dari perbuatan dosa) dikarenakan selama bulan Ramadhan selalu beribadah, beristighfar, berdoa memohon ampunan kepada Allah atas segala perbuatan dosa dan maksiat yang telah di lakukan. Pada saat lebaran sebaiknya kita saling mendoakan antar sesama dengan ucapan Taqabbalallahu minna waminkum karena ini terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, ataupun kita bisa mengucapkan minal Aidin wal faiidzin dimana memiliki arti yang sama baik namun tidak terdapat di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

dr. Siti Masliana dalam topik penyampaian “menghindari virus Corona dihari lebaran” menyebutkan bahwa kita harus menimbulkan sifat care antar sesama, mengingat kita tidak mengetahui di dalam diri kita ini ada virus nya atau tidak. Dimasa pandemi ini Kita harus merelakan tradisi dan kebiasaan kita disaat berlebaran mengingat sampai saat ini kita tak kunjung mengetahui sampai kapan pandemi ini akan berakhir, Ujarnya.

Siti Masliana menyebutkan ada beberapa tips yang dapat kita lakukan dalam menghadapi masa lebaran di tengah pandemi ini diantaranya kita harus menahan diri bertemu orang banyak untuk berburu keperluan lebaran, tetap menjaga kesehatan, tidak mengunjungi sanak saudara, tetap menerapkan psycal distancing, menggunakan masker, menjaga pola hidup bersih dan pola makan terkhusu bagi kita yang memiliki riwayat hypertensi dan diabetes, hindari kunjungan kerumah sakit, dan tetap terbuka dengan informasi mengenai covid 19 (mencari dan menyaring informasi agar tidak termakan hoax) Ujarnya.

Diakhir penyampaian Dia mengajak peserta webinar untuk senantiasa melindungi diri dan menjaga diri karena dengan kita menjaga diri secara otomatis kita juga melindungi para dokter yang sedang berjibaku dengan covid-19, karena dokter dan perawat adalah yang paling rentan terkena virus covid-19 ini karena berhubungan langsung dan intens dengan para pasien.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.