Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan Muhammadiyah harus bisa menjadi tenda besar bagi bangsa Indonesia. “Menjadi tenda besar artinya orang lain nyaman bernaung di bawah tenda besar Muhammadiyah. Meskipun ada perbedaan tapi dapat hidup berdampingan,”kata Din Syamsuddin ketika menyampaikan tausiah pada taaruf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Sumut di Auditorium Kampus UMSU,Jalan Muktar Basri Medan, Minggu (29/5).

Din menegaskan, Muhammadiyah sebelum kemerdekaan menjadi tenda besar bagi bangsa Indonesia, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadi Kusuma menyelamatkan Republik Indonesia. Walaupun sudah bersepakat, dasar negara yang salah satu sila pertama, berbunyi Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluknya dan terjadi penolakan dan keberatan kalau ini dipaksakan Indonesia akan terpecah-pecah, karena sebagian dari Indonesia timur menolak bergabung. Tapi dengan dengan kebijaksanaan, kearifan dan wawasan luas dari tokoh Muhammadiyah ki Bagus Hadi Kusuma yang cerdas mengusulkan dan memasukan kata menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

“Itulah yang menyelamatkan Indonesia. Inilah wawasan kebangsaan Muhammadiyah, dan ini harus dimiliki warga Muhammadiyah. Sekarang ini forum internasional, Muhammadiyah sangat dikenal baik organisasi yang punya wawasan yang luas dan wawasan kerja, di luar negeri saya diakui sebagai President of Muhammadiyah Indonesia, yang memiliki Organisasi Islam Modern yang terbesar,” kata Din yang menilai kekuatan besar tidak dilihat dari jumlah, tapi pengakuan kerja. Kekuatan Muhammadiyah menjelmakan iman dalam amal sehingga lahir amal-amal yang banyak.

Menurutnya, Muhmmadiyah harus punya kepercayaan diri menjadi tenda besar. PP Muhammadiyah MoU kini telah menjalin kerjasama dengan banyak pihak, termasuk dengan pemerintah negara-negara barat. Ada MoU dengan Australia, Inggris, dan akan datang dengan New Zeland dan Amerika. Tapi, mentalitas umatIslam, mentalitas kaum minoritas, kalau ada apa-apa takut dan khawtir, padahal kelompok terbesar, sehingga mentalitas sebagian mentalitas umat Islam “orang kalahan”. Ini harus dirubah, umat Islam harus memiliki kepercayaan diri, kita besar, kita punya kelebihan.

Karena selama ini saya sampaikan kepada warga Muhammadiyah dan umat Islam, mari kita menjadi tenda besar. Menjadi tenda besar bagi semua, bagi semua umat Islam, walaupun berbeda paham keagamaan,

Densus 99

Din Syamsuddin mengaku kecewa dengan kepemimpinan Presiden SBY. Dia bercerita sudah mengkritik dengan kata-kat ayang lembut, bahkan dalam pertemuan empat mata hingga 6kali, dimana disampaikan kepentingan Muhammadiyah dan umat Islam. Ternyata tidak dijalankan.

Dia menilai, soal terorisme, soal ekonomi kerakyatan, ekonomi kapitalistik yang dijalankan pemerintah sekarang hanya memunculkan kelompok tertentu yang berjaya dan itu menjadikan umat Islam korban, karena robohnya kedai, dan Muhammadiyah mengalami kesulitan.

“Tolong bapak presiden, tolong kembalikan ekonomi nasional kepada ekonomi berdasarkan ekonomi konstitusi, UUD yakni ekonomi kerakyatan, kalau ini dibiarkan seperti sekarang umat Islam jadi korban, ini akan terus kita desak dan kita berjuangkan, saya sudah sampaikan secara langsung dan waktu bertemu dengan tokoh agama yang saya prakarsai di Istana. Saya sedikit tegas, dan bilang ini harus diubah,” ucapnya.

Menurutnya, kalau umat Islam tidak berjalan di bidang ekonomi, akibat kebijakan negara tidak tepat. Saat ini the power of the money, Keuangan yang Maha Kuasa, menjadi yang sangat besar. Korupsi dimana dan lingkungan Istana.

“Pemerintah tidak serius memberantas korupsi, termasuk presiden SBY, saya nilai presiden mangkir dari amanat reformasi, memberantas korupsi. Lari dari persoalan, begitu ada persoalan dan ada di lingkungan terdekat, dan seharusnya saatnya presiden turun tangan, malah mengatakan cukup diserahkan ke KPK. Ini namanya sikap lari dari masalah. Ini disebut “mangkir” dari terhadap realitas yang dihadapi. Orang yang mangkir dari amanat orang kita sebut melakukan perbuatan mungkar, maka harus ditegakkan amar mahruf nahi munkar,” ucapnya.

Dia mengusulkan kepada pemerintah agar membentuk Tim Densus 99/Antiteror untuk memburu koruptor atau teroris ekonomi bangsa ini. “Kalau Tim Densus 88 untuk memburu teroris, tapi Densus 99 khusus memburu koruptor. Sebab koruptor bangsa ini tidak jauh beda dengan teroris, bedanya koruptor merupakan teroris ekonomi,

dia menjelaskan, jika pemerintah baik dan benar, kita berada di garda terdepan mendukung pemerintah, tapi kalau pemerintah menyeleweng, menyimpang termasuk dari nilai agama, maka Muhammadiyah akan menjadi pengkritik.

Sedangkan Turut memberikan sambutan, Ketua PWM Sumut, Prof Dr H Asmuni, MA dan Rektor UMSU, Drs Agussani, MAP. Adapun susunan PWM Sumut, Ketua PWM, Prof Dr Asmuni, MA, Wakil Ketua, Drs Dalail Ahmad, MA, Prof Dr H Hasyim Nasution, MA, Drs Sarwo Edhi, MA, H Suhrawardi K Lubis, SH, SpN,MH, Koordinator Bidang, Drs Mario Kasduri, MA, Prof Dr Ibrahim Gultom, MA, Drs H Askolan Lubis, MA, H Bahril Datuk, SE, MM, Drs Shohibul Anshor Siregar, MSi. Sekretaris, HM Nasyir Wahab SE. MBA, wakil sekretaris, Irwan Syahputra, dan Bendahara. Drs Agussani, MAP. Sedangkan Pengurus PWA, Ketua, H Elynita, Sekretaris, Nur Rahma Amini,MA, Bendahara Endang Pilihaning Rahayu dan dibanti wakil ketua dan bidang. (maf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.