Tanggal 27 Februari 2012 adalah hari bersejarah bagi perjalanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Hari itu adalah hari yang pantas diperingati oleh segenap Sivitas Akademika UMSU, sebagai Milad ke-55 UMSU. Kilas balik 55 tahun perjalanan UMSU menarik untuk digoreskan dalam catatan kecil ini ; sebagai bentuk atensi dan apresiasi yang cukup tinggi terhadap berbagai capaian saat ini.(Drs.H.M.Natsir Isfa, MM)

Usia 55 tahun bagi sebuah Perguruan Tinggi, tidak lagi tepat dikatakan muda atau paroh baya, melainkan harus dipandang sebagai kurun waktu yang cukup panjang untuk menapak menjadi sebuah Perguruan Tinggi yang mendapat trust dari masyarakat. Perjalanan UMSU yang berangkat dari sebuah PTM (baca Perguruan Tinggi Muhammadiyah) kecil dapat diibaratkan sebagai sebuah perjalanan panjang yang syarat dengan berbagai rintangan alam, kadang mendaki, kadang menukik dan menurun lalu mendatar, menuju suatu titik akhir tanpa batas. Dari catatan sejarah setidaknya, perjalanan panjang UMSU selama 55 tahun, dapat dibagi menjadi enam fase pengembangan.

Â

Periode 1957-1972, fase pertama berangkat dari tanggal 27 Februari 1957 atas prakarsa beberapa Tokoh Muhammadiyah SumateraUtara diantaranya HM.Bustami Ibrahim, D.Dyar Karim, M.Nur Haitami, Kadiruddin Pasaribu, Dr.Darwis Datuk Batu Besar , didirikan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sumatera Utara . Tekad untuk mendirikan PTM waktu itu hanya bermodalkan semangat , ikhlas tanpa pamrih, agar Persyarikatan Muhammadiyah memiliki sebuah Perguruan Tinggi yang mampu mencetak kader ummat, kader persyarikatan dan kader bangsa. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan , PTM dibangun sebagai wujud keniscayaan dan keharusan, memenuhi tuntutan dan kebutuhan organisasi akan pentingnya sebuah lembaga pendidikan tinggi. Langkah awal dalam priode ini, didirikan FAFHIM (Fakultas Faslafah dan Hukum), serta FIAD (Fakultas Ilmu Agama Jurusan Dakwah) dan Fakultas Syariah, yang kemudian menyusul FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) dan FIS-KS) (Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Kesjehteraan Sosial). Berjalan tanpa Status yang jelas dan dengan mahasiswa yang dapat dihitung jari, tidak mengurangi semangat assabiqunal awwalun.

Periode 1972-1981 adalah fase kedua atau fase pengembangan sebagai kelanjutan dari fase pertama yang lebih menitik beratkan pada pembangunan untuk mengukuhkan landasan bermodalkan spirit dan keikhlasan.

Dibawah kepemimpinan Buya Haji M.Bustami Ibrahim sebagai Rektor,beberapa Fakultas yang sebelumnya sempat berafiliasi dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Padang Panjang, diperjuangkan untuk memperoleh pengakuan Pemerintah melalui pendekatan ke Kopertis dan Kopertais. Perjuanganpun berbuah manis dengan diperolehnya status TERDAFTAR di Kopertis Wilayah I pada tahun 1976 untuk Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ilmu Pendidikan dan di Kopertas Wilayah IX untuk Fakultas Ushuluddin sebagai perubahan dari Fakultas Ilmu Agama (FIAD), yang kemudian menyusul Fakultas Pertanian dan Fakultas Peternakan, dua fakultas eksakta untuk memenuhi syarat Universitas. Penulis masih ingat sambutan Rektor UMSU Buya Haji Bustami Ibrahim (Alm) yang menyatakan rasa puasnya atas hasil perolehan status dengan menyebut TIS dan TAS untuk Kopertis dan Kopertas. Kata-kata itu selalu berulang disetiap sambutannya. Status TERDAFTAR tersebut hanya berlaku sampai tingkat Sarjana Muda, karena sistim pendidikan yang dianut waktu itu hanya mengenal sistim terminal ; artinya Sarjana Muda lebih dahulu , kemudian baru dapat melanjutkan ke Sarjana Lengkap.

Dalam kurun waktu ini, secara bertahap arah pembangunan UMSU secara perlahan namun pasti ditujukan pada dua aspek penting yakni fisik dan akademik. Dibawah kepemimpinan Bapak TA.Lathief Rousydiy sebagai Rektor (1977-1981) , Dra.H.Kamarisah Tahar sebagai Pembantu Rektor I, Drs.Alfian Aribe Pembantu Rektor II dan H.M.Nur Rizali, SH Pembantu Rektor III, pembangunan fisik lebih diarahkan pada upaya pembenahan ruang belajar dengan membangun gedung ruang kuliah dan Aula bantuan Gubernur Sumatera Utara, sedangkan pengembangan akademik lebih berfokus pada penataan kurikulum, proses belajar mengajar dan Ujian Negara. Perjalananpun berlanjut meski belum mampu memacu kecepatan akibat berbagai keterbatasan dan berbagai persoalan internal yang muncul. Dalam periode ini , beberapa nama baru muncul diantaranya Haji M Arbie dan Drs.H.A.Salim Siregar. Mereka punya andil besar dalam membangun UMSU, dalam kapasitas sebagai Dewan Pembina UMSU.

Dewan Pembina UMSU yang diketuai Drs.H.A.Salim Siregar memainkan peranan penting dalam pengembangan UMSU, dimana arah pembangunan UMSU disusun secara terencana dalam bentuk Blue Print yang disebut dengan Rencana Induk Pengembangan (RIP). Dalam RIP setebal ratusan halaman tersebut, ditetapkan target capaian secara kuantitas yang cendrung meningkat untuk setiap lima tahun, dalam bidang fisik, akademik, pembiayaan, dan rekruitmen calon mahasiswa.

Meskipun angka-angka yang tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan masih jauh dari target yang ditetapkan, namun terdapat banyak capaian yang dihasilkan diantaranya kesempatan Ujian Negara Tingkat Sarjana Muda untuk Jurusan Kesejahteraan Sosial, Pendidikan Umum, Pertanian, dan Jurusan Dakwah. Bagi mahasiswa, memperoleh kesempatan mengikuti Ujian Negara adalah merupakan kebanggaan dari buah perjuangan yang tidak mudah dan berliku terutama proses untuk mendapatkan SK Ujian Negara dari Kopertis maupun Kopertais. Capaian yang dihasilkan tidak hanya dalam kegiatan akademik, tetapi juga dalam bidang kemahasiswaan seperti mahasiswa teladan se Kopertis Wilayah I. Dalam priode ini UMSU berhasil menghantarkan tiga orang mahasiswa Teladan secara berturut-turut ke Istana Negara, masing-masing Ali Mukmin Siahaan, Sastrawaty dan Shohibul Anshor Siregar. Prestasi demi prestasi silih berganti, sehingga dengan prestasi itu nama UMSU mulai dikenal dan menjadi perhatian masyarakat. Usaha mengangkat nama UMSU tidak hanya dilakukan oleh Pimpinan Universitas melalui pendekatan kepada Pemerintah Daerah maupun Pusat, tetapi juga organisasi kemahasiswaan intra Universitas turut memberi kontribusi. Keberadaan Dewan Mahasiswa (DEMA) yang diketuai Ibrahim Sakty Batubara dan Sekjen M.Natsir Isfa, menjadikan UMSU menjadi pusat kegiatan bersama kemahasiswaan berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, hingga akhirnya DEMA dibubarkan setelah terjadi gejolak mahasiswa tahun 1977 saat diberlakukannya kebijakan NKK atau Normalisasi Kehidupan Kampus.

Kehadiran Tokoh Pemuda Muhammadiyah Dr.H.Dalmy Iskandar pada tahun 1981 membawa perubahan cukup drastis dalam tahapan pengembangan UMSU. Meskipun kehadiran Dr.H.Dalmy Iskandar dimulai dari kapasitasnya sebagai Ketua Rektorium UMSU, tahap pembangunan UMSU dapat dikatakan baru memasuki fase ketiga yang dimulai tahun 1982-1996. Di awal fase tiga ini pula muncul beberapa figure baru yakni Drs.M.Yusuf Pohan (Pembantu Rektor I) , Drs.H.Chairuman Pasaribu (Pembantu Rektor II) , Drs.H.Mukhtar Abdullah (Pembantu Rektor III) untuk memperkuat kepemimpinan Dr.H.Dalmy Iskandar sebagai Rektor.

Dalam fase ini gerak laju pengembangan UMSU semakin dirasakan geliatnya secara fisik, akademik dan kemahasiswaan. Dengan modal keberanian dan tak kenal lelah, dengan Bismillah ia mulai pekerjaan berat ini, walau dihadapkan dengan berbagai keterbatasan. Berbagai jurus kiat dikeluarkannya walau terkadang berbenturan dengan norma, aturan dan kelaziman demi membesarkan UMSU. Kemampuan Dr.H.Dalmy Iskandar untuk melakukan pendekatan kepada pemerintah maupun pengusaha patut mendapat acungan jempol. Beberapa Menteri yang mempunyai kedekatan seperti Drs.Cosmas Batubara, Ir.Akbar Tanjung, Prof.DR.B.J.Habibie, Harmoko, Panglima TNI Faesal Tandjung, dan lain-lain diundang untuk menyampaikan Ceramah Umum di Kampus UMSU. Puncaknya adalah keberhasilannya menggandang Pengusaha Nasional H.Probosutedjo yang tidak lain juga adalah adik Presiden Soeharto, sekaligus memposisikannya sebagai Ketua Dewan Kurator UMSU. Di fase inilah grafik penerimaan mahasiswa baru UMSU terus mengalami peningkatan setiap tahun, sejalan dengan pengembangan fisik di tiga lokasi Kampus yakni Kampus I Gedung Arca, Kampus II Jalan Demak dan Kampus III Mukhtar Basri .Keberhasilan menggandeng Pengusaha Nasional H.Probosutedjo ternyata memberi keberkahan tersendiri bagi kemajuan UMSU. Sebagai Ketua Dewan Kurator , H.Probosutedjo tidak ragu memberikan sebahagian kekayaannya untuk membangun Kampus I UMSU, dan Kampus III Mukhtar Basri yang sebelumnya sempat diikrarkan sebagai hibah, namun akhirnya diselesaikan secara jual beli. Selain sumbangan dalam bentuk fisik, H.Probosutedjo juga memberi kesempatan beberapa Pejabat dilingkungan UMSU untuk menunaikan rukun Islam kelima, masing-masing dr.H.Dalmy Isakndar, Drs.H.Mukhtar Abdullah, Drs.H.Chairuman Pasaribu, Drs.Syafruddin Harun, H.Kalimin Sunar, H.M.Nur Rizali, SH, dan Drs.H.M.Natsir Isfa, MM.

Sejalan dengan pengembangan fisik penataan akademik juga dilakukan, dengan menambah Fakultas dan Program Studi, berturut-turut FakultasHukum, Ekonomi dan Teknik. Hampir setiap dua tahun sekali dilakukan upaya menaikkan status Fakultas-fakultas yang ada, dari Terdaftar ke Diakui dan dari Diakui ke Disamakan, meski beberapa program study belum memiliki kelayakan untuk dinaikkan statusnya. Bagi Dalmy Isakndar ada prinsip yang melekat pada dirinya yakni “semua hambatan bisa diterobos” , termasuk keberaniannya mengukuhkan gelar Professor kepada Dr.Suhardiman SE. meski terjadi pro contra dalam proses pengukuhan guru besar tersebut. Tak terhitung pula dalam masa kepemimpinan Dr.H.Dalmy Iskandar dilakukan penanda tanganan MOU dalam rangka kerjasama membangun UMSU baik dengan lembaga pemerintahan, perusahaan swasta, BUMN, maupun dengan lembaga-lembaga social. Beberapa MOU juga dilakukan dengan luar negeri seperti dengan USM Penang Malaysia, Universitas Putera Malaysia (UPM) dan salah satu Perguruan Tinggi di India.

Dimasa kepemimpinan dr.H.Dalmy Iskandar pula, berdiri Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) sebagai pengembangan dari Ruang Kuliah Jarak Jauh UMSU di Padangsidimpuan, yang selanjutnya dikembangkan menjadi tiga Sekolah Tinggi yakni :Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKP) Muhammadiyah , Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Muhammadiyah. Menyusul dua Sekolah Tinggi di Kisaran yamg juga merupakan pengembangan Ruang Kuliah Jauh (RKJ) yakni Sekolah Tinggi Ilmu Hukum dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Asahan di Kisaran.

Berkat kemampuan, kelebihan dan keberhasilannya itu pula, Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majlis Dikti memperpanjang masa jabatannya sebagai Rektor, setelah berakhirnya jabatan untuk periode kedua.

Dalam fase keempat yang disebut dengan fase aktualisasi atau pengakuan masyarakat, pengembangan UMSU lebih diarahkan pada pemantapan berbagai program yang meliputi Struktur Organisasi, pengembangan akademik, ketenagaan, kemahasiswaan, dan keuangan. Dr.H.Dalmy Iskandar yang segera akan mengakhiri jabatanmya setelah lebih dari dua priode memimpin UMSU, telah mempersiapkan figur-figur yang akan melanjutkan estafet perjuangannya. Peralihan kepemimpinan dari Dr.H.Dalmy Iskandar kepada Drs.H.Chairuman Pasaribu sebagai Rektor berlangsung secara mulus tanpa gejolak dan riak.

Pelan namun pasti, inilah kekhasan yang dirasakan selama kepemimpinan Drs.H.Chairuman Pasaribu selama lima tahun (1999-2003). Ia tidak sendiri. Sifat kedekatan dan persahabatannya yang tinggi, figure lama Ir.H.M.Yunus Ritonga dan Drs.H.Mukhtar Abdullah tetap dimanfaatkan, ditambah kader muda Bahdin Nur Tanjung SE,MM dan M.Arifin Gultom SH, masing-masing sebagai Pembantu Rektor.   Pilihan kepada Drs.H.Chairuman Pasaribu untuk melanjutkan estafet kepemimpinan UMSU lebih dikarenakan pada beberapa karakternya yang dikenal di kalangan masyarakat Muhammadiyah Sumatera Utara sebagai sosok integritas kepribadiannya yang jujur, ikhlas, tenang, sederhana, dan memiliki ilmu keagamaan yang cukup menjadi bekal kepemimpinannya. Beban berat memang masih dirasakan di awal kepemimpinannya yakni penyelesaian status tanah Kampus III yang belum memiliki kejelasan, apakah hibah murni atau wakaf dari Bapak Haji Probostejo. Pembicaraan mengenai status lahan kampus UMSU Mukhtar Basri memang muncul menjelang akhir kepemimpinan Dr.H.Dalmy Iskandar, namun berkat berbagai pendekatan dan dengan persetujuan Pimpinan Pusat, Drs.H.Chairuman Pasaribu dapat menyelesaikan status abu-abu tersebut menjadi hak milik melalui kesepakakatan jual beli.

Tim nya yang solid membawa perubahan yang cukup signifikan dalam pengembangan UMSU. Ia berhasil merangkul semua potensi dalam membenahi dan menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul. Pengembangan UMSU dalam fase ini dapat disebut sebagai fase pengakuan masyarakat (aktualisasi) sejalan dengan kebijakan nasional yang ditetapkan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi dalam pembinaan Perguruan Tinggi Swasta. Kepercayaan masyarakat yang semakin hari semakin meningkat terhadap UMSU merupakan daya dukung yang sangat potensial dalam membangun masa depan UMSU. Penataan akademik melalui akreditasi BAN menjadi prioritas program yang tingkat capaian secara rata-rata cukup memuaskan.

Periode kepemimpinan Drs.H.Chairuman Pasaribu sebagai Rektor berakhir dengan tingkat stabilitas yang cukup tinggi , tanpa gejolak maupun riak. Ia pun masih memiliki keinginan dan peluang untuk mendapatkan amanah dari Pimpinan Pusat untuk memimpin UMSU periode keduanya. Namun takdir menetapkan lain, dalam sidang Senat Universitas pemilihan calon Rektor, Chairuman Pasaribu harus rela menyerahkan estafet kepemimpinan kepada figure muda Bahdin Nur Tanjung, SE, MM yang tak lain adalah kemenekannya sendiri yang sebelumnya menjabat Pembantu Rektor I dalam periode pamannya.(2003-2010)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.