Sejak kebangkitan Islam pada akhir tahun tujuh puluhan, pelbagai disiplin ilmu Islam telah banyak dikembangkan oleh cendekiawan muslim. Kegigihan cendikiawan muslim masa kini untuk menggali dan mengembangkan kembali ilmu-ilmu yang berteraskan ke-Islaman seperti ilmu pembangunan berteraskan islam, ilmu ekonomi islam dan lain-lain cukup mengagumkan. Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan dunia didominasi ilmu-ilmu barat yang bercorak sekuler. Keadaan ini membuat ilmu-ilmu berteraskan islam kehilangan identitas dan seolah-olah ilmu yang berkembang semuanya bersumber dari barat. Artinya terjadi kolonisasi terhadap pendidikan. Pemikiran tersebut setidaknya telah melatar belakangi diadakannya Seminar Antar Bangsa yang bertajuk “Dekolonisisasi Pendidikan” yang diselenggarakan oleh UMSU bekerjasama dengan ISDEV-USM Malaysia, di Kampus UMSU, Medan, Rabu (11/4). Sedikitnya enam makalah utama dibentang dalam seminar sehari ini, diantaranya Dekolonisasi Pendidikan Suatu Keniscayaan oleh Prof.Dr.Mohammad Syukri Saleh dari ISDEV-USM, Dekolonisasi Pendidikan Dalam Perspektif Muhammadiyah oleh Prof.Dr.H.Asamuni, MA, Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Utara,  Dekolonisasi Pendidikan Menurut Perspektif UPI Bandung, dan Dekolonisasi Pendidikan dan Langkah-Langkah Aksi oleh Dr.Sukiman MA dari IAIN Sumatera Utara.

Keynot Speaker Prof.Dr.Mohammad Syukri Saleh dalam permbahasannya mengatakan, dekolonisasi pendidikan sebagai keniscayaan adalah sebuah upaya terencana dan terprogram membebaskan diri dari penjajahan pendidikan dalam semua segi, sejak dari kurikulum sampai pada segi kaedah pendidikan dan sebagainya. Ia berpendapat, pemebasan ini akan membawa kepada satu bentuk pendidikan yang bukan saja bebas dari bentuk pendidikan Eurocentris, tetapi juga dengan pembinaan pemikiran, asumsi dan perspektif yang benar-benar asli, berdasar pada kepercayaan dan budaya tempatan.

Prof.Dr.Hajjah Mulyani Sumantri dari UPI Bandung dalam paparannya mengemukakan, konsep dekolonisasi pendidikan di Indonesia telah diwujudkan dalam bentuk pendidikan karakter berazaskan Pancasila. Pendidikan karakter bertujuan membangun karakter bangsa, agar memiliki kompetensiu intelektual, dan karakter serta kompetensi keterampilan,

Sedangkan Prof.Dr.H.Asmuni,MA yang membentangkan makalahnya dari perspektif Muhammadiyah menyimpulkan, dekolonisasi pendidikan yang dilakukan Muhammadiyah adalah adanya kewajiban memberikan muatan kurikulum ke islaman dan kemuhammadiyah bagi semua lembaga pendidikan Muhammadiyah, sejak dari Sekolah Dasar hingga  Perguruan Tinggi.

Sementara Dr.Sukiman, M.Si dari IAIN Sumatera Utara dalam makalahnya mengemukakan, dekolonisasi pendidikan dalam perspektif Islam adalah keniscayaan. Karena Islam menawarkan sistim yang universal, yakni nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Jadi sistim pendidikan Islam adalah mengusung kedua nilai tersebut yang sumbernya beral dari Islam.

Seminar Antar Bangsa yang dibuka secara resmi oleh Rektor UMSU Drs.Agussani MAP, diikuti peserta dari USM, UMSU, IAIN, UMA, UISU, Pekan Baru dan Banda Aceh. (MR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.