Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi mungkar bertanggung jawab untuk kemajuan dan keselamatan masa depan bangsa. Karenanya Muhammadiyah dalam posisinya sebagai pembantu negara juga harus tampil sebagai kekuatan penentu dalam merumuskan kebijakan negara untuk kepentingan publik.

Demikian disampaikan Prof Dr Ahmad Syafii Maarif dalam acara talkshow bertajuk Islam dalam Bingkai Keindonesiaan yang digelar di Kampus Pascasarjana UMSU, Jalan Denai, Medan, Sabtu (12/12).

Dikatakannya Muhammadiyah melalui Perguruan Tingginya harus mengambil inisiatif bersama untuk menyiapkan negarawan pada semua bidang untuk dilatih dan diarahkan sebagai penentu perjalanan bangsa dan negara.

“Muhammadiyah harus berada dalam posisi yang siap untuk memberikan kader-kader terbaiknya dari berbagai bidang ilmu kepada negara. Sekolah Muhammadiyah diharapkan bisa menciptakan manusia-manusia yang merdeka. Mengingat kondisi negara ini sebenarnya masih dalam keadaan terjajah, mental masyarakatnya pun masih mentalitas terjajah,” ujarnya.

Ia juga mengatakan saat ini Indonesia kekurangan tokoh negarawan namun kelebihan tokok politikus dan pejabat yang bersikap seperti penjahat. Indonesia saat ini kekurangan tokoh seperti Soekarno dan Hatta yang dikenal dengan dwi tunggal. “Oleh sebab itu menurut saya politisi harus tidak hanya berhenti di situ, harus naik kelas supaya bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Partai politik itu tugasnya mendidik kader-kader menjadi negarawan bukan hanya berhenti pada politisi yang menjadikan politik sebagai mata pencaharian,” ungkapnya.

Meski demikian ia tidak pesimis melihat pemuda Indonesia saat ini yang kelak akan menjadi pemimpin masa depan. Menurutnya banyak pemuda-pemuda Islam yang potensial yang pekerja keras yang kelak bisa menjadi negarawan.

Sebagai umat Islam yang rahmatan lil alamin, lanjut Syafii, Umat Islam harus menjadi payung di mana pun ia berada. Baik dalam negara yang mayoritas Islam maupun minoritas, umat Islam harus menjadi orang yang dirindukan orang lain. Karenanya untuk mencapai visi tersebut orang Islam harus memperbaiki akhlaknya dimulai dari diri sendiri.

Dari Kampus

Rektor UMSU, Agussani MAP mengatakan kegiatan seperti ini perlu terus dilaksanakan di kampus-kampus. Sehingga kampus bisa turut serta dalam upaya melahirkan negarawan yang akan membawa perubahan bagi Indonesia.

“Ini juga jadi PR bagi UMSU agar bisa menciptakan lebih banyak negarawan bukan hanya sarjana. Saran-saran dari Buya Syafii Maarif nanti bisa ditindaklanjuti. Saat ini banyak alumni UMSU yang sudah menjadi kepala daerah kita harapkan bisa bergeser tidak hanya menjadi politikus tetapi juga menjadi negarawan,” ujarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.