Pusat Studi Islam dan Muhammadiyah (PSIM) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara bekerjasama dengan Majelis Pustaka dan Informasi ( MPI-SU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, menggelar bedahbuku ‘ Muhammadiyah Jawa’ di Kampus Pascasarjana UMSU, Jalan Denai, Medan, Kamis (19/5).

Buku Muhamamdiyah Jawa ditulis Ahamad Najib Burhani PhD,  peneliti LIPI dan Wakil Ketua Majelis Pustaka PP Muhammadiyah. Pemilihan buku ini dilakukan, untuk memberikan  pemahaman kepada para Dosen Al-Islam dan Muhammdiyah UMSU, Guru-guru mata study Muhammadiyah di SMA/SMK dan SMP, serta para kader Muhammadiyah diberbagai tingkatan.

Bedahbuku dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor 1 UMSU Dr. Muhammad Arifin MH. Kata Arifin, sebagai organisasi besar di tanah air, maka banyak peneliti berkeinginan untuk mengkaji Muhammadiyah lebih dalam. Kajian tentang Muhammadiyah, kata Arifin selain lakukan oleh internal Muhammadiyah, juga banyak dilakukan pihak eksternal.

Muhammad Arifin melihat, Buku Muhammadiyah Jawa menarik untuk dibedah karena mengandung informasi seputar pengembangan dakwah Muhammadiyah di Jawa, khususnya Kauman Yoqyakarta. ‘ Tradisi baik bedahbuku ini, dapat dikembangkan terus,’

Sementara itu, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumatera Utara Prof. Dr, Nawir Yuslem MA berharap bedah buku ini dapat memperkaya perspektif keberagaman Muhammadiyah.

Ketua Pusat Studi Islam dan Muhammadiyah (PSIM) UMSU, mengharapkan dengan kegiatan bedahbuku ini, dapat memberikan pemahaman yang lebih konprehensip tentang Muhammadiyah.

Secara terpisah, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi ( MPI-SU) Syaiful Hadi JL mengatakan, tradisi bedah buku akan terus dilakukan MPI-SU untuk mengembangkan tradisi dan spirit letarasi yang lebih kuat dikalangan warga Muhammadiyah.

Kata Syaiful, Muhammadiyah Sumatera Utara, dalam lima tahun ke depan memiliki program unggulannya : Gerakan Muhammadiyah Membaca. Program ini, memiliki banyak turunannya, seperti pengembangan Pustaka Persyarikatan, Pustaka Masjid, Pustaka Mandiri. Katanya, MPI Wilayah, akan menjalin kerjasama dengan banyak pihak untuk menyukseskannya.

MUHAMMADIYAH JAWA

Bedahbuku Muhammadiyah Jawa, selain menghadirkan langsung penulis bukunya Ahmad Najib Burhani juga menghadirkan Pemanding Utama, Dr. Faisar Ananda Arfa MA dan Moderator Muhammad Kadri MSc.

Ahmad Najib menjelaskan, dengan mengusung visi “Islam berkemajuan” sebenarnya Muhammadiyah ingin menegaskan eksistensinya sebagai bagian dari “warga dunia”.  Sebagai implikasinya, Muhammadiyah harus mulai siap terbuka untuk saling berbagi (sharing) dan sekaligus berkompetisi bukan hanya di level lokal dan nasional, tapi juga global.

“Yang dimaksud Islam berkemajuan adalah Islam yang mampu beradaptasi, menyesuaikan diri secara tegas dengan dinamika zaman,” ujarnya.  Najib mengatakan, slogan ”Islam berkemajuan” sebelum ini  jarang terdengar bahkan di kalangan Muhammadiyah sendiri. Ia baru diperkenalkan kembali, setelah cukup lama terpendam, dengan terbitnya buku berjudul Islam Berkemajuan: Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja pada tahun 2009. Buku yang ditulis oleh murid langsung Kyai Dahlan ini di antaranya menjelaskan seperti apa karakter Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah,” jelasnya.

Lebih lanjut Najib menjelaskan, keputusan Muhammadiyah mempopulerkan konsep ‘Islam berkemajuan’ sejak Muktamar di Yogyakarta 2010 bertujuan untuk mengidentifikasi karakter keislaman Muhammadiyah. “Dalam kaitannya dengan globalisasi, Islam berkemajuan itu sering dimaknai sebagai  ‘Islam kosmopolitan’ yakni kesadaran bahwa umat Muhammadiyah adalah bagian dari warga dunia yang memiliki rasa solidaritas kemanusiaan universal dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordialdan konvensional seperti yang termaktub dalam Tanfidz Muhammadiyah 2010,” jelasnya.

“Di Muhammadiyah itu tidak monolitik. Sama dengan Islam yang karakternya tidak tunggal. Karakter inilah yang menjadikan Muhammadiyah unik,” ujar Najib.

Dalam acara bedah buku ini, Najib langsung tampil sebagai pembicara utama. Sedangkan yang menjadi pembanding adalah Dr Faisar Ananda Arfa, cendekiawan Muhammadiyah Sumut yang juga dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut).

Mengkritisi buku buku ‘Muhammadiyah Jawa’ ini, Faisar mengatakan, karena bukan merupan resensi buku, maka ia lebih menonjolkan aspek kritisi yang mencoba mengeksplorasi kekurangan yang mungkin tampak dari metode dan konten buku yang dibedah.

Menurut Faisar, dari judulnya buku ‘Muhammadiyah Jawa’ ini terkesan provokatif, meskipun dari asalnya yang merupakansebuah tesisyang berjudul ‘The Muhammadiyah’s Attitude to Javanese Culture in 1912-1930: Appresciation and Tension’ tidak menunjukkan demikian.

Menandai bedahbuku Muhammadiyah Jawa, penulisnya Ahmad Najib Burhani menyerahkan buku kepada Wakil Rektor 1 UMSU, Dr. Muhammad Arifin, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Nawir Yuslem dan Wakil Ketua PW Aisyiyah Emita Sabri MSi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.