Ketua Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Nasional (ALPTKN) Prof Dr Djaali memberikan kuliah umum tentang Kesiapan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam Penyelenggaraan Profesi Guru (PPG) di Aula Kampus Jalan Kapt. Mukhtar Basri Medan, Kamis (22/9).

Acara ini dibuka oleh Rektor UMSU Dr Agussani, MAP dan diikuti oleh pimpinan fakultas, pimpinan lembaga, para dosen, mahasiswa FKIP serta FAI. Turut hadir Wakil Rektor I Dr Muhammad Arifin Gultom, Wakil Rektor II Akrim, M.Pd, Wakil Rektor III Rudianto, M.Si, Kepala Biro Akademik dan Data Maradoly, MPd serta pimpinan BPH

Rektor UMSU Dr Agussani dalam sambutannya mengatakan, UMSU siap menyelenggarakan PPG karena telah memiliki asrama mahasiswa (Rusunawa) untuk menampung mahasiswa calon guru sebagai syarat yang diatur dalam undang-undang. Selain itu semua Prodi di FKIP berakreditasi B dan memiliki sarana penunjang LPTK.

Rektor Dr Agussani menyampaikan atas kesiapan itu, maka UMSU mengundang Prof Dr Djaali untuk memberikan pemikiran bagaimana mempersiapkan LPTK yang baik. “Kehadiran dan ceramah umum ini menjadi motivasi sekaligus menaruh keyakinan  untuk dapat menyiapkan LPTK. Tentu ini terselenggara atas kekuatan kami dan didukung sambutan undangan kami oleh  Prof Djaali,” kata Rektor seraya menambahkan FKIP  terus berbenah dan senantiasa mengikuti kebijakan pemerintah untuk menghasilkan lulusan guru profesional dan kreatif.

Pada kuliah umum, Prof Dr Djaali menyambut gembira dan mengapresiasi kesiapan UMSU menyelenggrakan PPG karena  memenuhi syarat yang ditentukan pemerintah dan Undang-Undang termasuk memiliki rusunawa.

Prof optimis UMSU mampu melaksanakannya dengan pengelolaan LPTK yang baik, apalagi UMSU masuk 422 LPTK yang ikut dalam organisasi Ikatan PPG (IPPG) yang baru dibentuk untuk memberikan izin menyelenggarakan PPG.

Prof Dr Djaali mengaku  gembira UMSU sudah menerapkan tes bakat, minat dan kepribadian pada calon mahasiswa khususnya FKIP dan Kedokteran.

Ketua IPPG  ini mengingatkan, kualitas bangsa ini ditentukan oleh pendidikan. Sedangkan pendidikan ditentukan oleh calon guru yang diseleksi melalui PPG. Untuk itu, lanjutnya, pemerintah  sedang menata ulang pengelolaan LPTK dan akan menjadikan PPG menjadi benteng terakhir menyeleksi guru bermutu pula. Supaya setelah tamat tidak menganggur dan menjadi guru berbakat dan profesional serta mampu membentuk karakter anak didik.

Rektor UNJ ini mengakui masih banyak pengelolaan LPTK yang tidak berkualitas sehingga menghasilkan mutu guru rendah, padahal pemerintah telah memberikan tunjangan profesi guru. “Ternyata tunjangan profesi guru tidak menghasilkan guru berkualitas. Makanya ada persoalan dalam pengelolaan LPTK di perguruan tinggi yang akan dibenahi,” katanya.

Dengan kondisi seperti itu, siapa yang bertanggung jawab dengan rendahnya mutu guru dan pendidikan kita? Prof Djaali  menjawab yang bertanggung jawab termasuk 422 LPTK PTN/PTS  karena turut meluluskan tenaga guru selama ini. Maka ke depan, lanjutnya, seleksi calon guru akan diperketat melalui LPTK yang baik.

Prof Dr Djaali menegaskan saat ini Indonesia kekurangan 316.000 guru berkualitas dan berbakat. Sementara guru yang memenuhi syarat hanya 12.000 orang. Untuk itu pada 27 Juni 12 LPTK PTN bertemu dan melaporkan kepada Wapres agar segera menyelenggarakan PPG reguler untuk memenuhi kebutuhan guru dan gagasan itu diterima sehingga akhir tahun akan ada pengangkatan guru. Sementara 547 ribu guru ditunda sertifikasinya.

Meski telah berbicara hampir 2 jam, Prof Djaali mengaku senang hadir di UMSU. Dia membuka sesi tanya jawab untuk menerima masukan pemikiran. Dia pun melontarkan kritik kepada pemerintah tentang kebijakan yang membebani  dan menjadikan guru hanya sebagai pengajar 24 jam. Padahal guru bertugas sejak dia menginjakkan kaki di sekolah termasuk memberi senyuman pada anak didik.

Sebelumnya Wakil Rektor I Dr Muhammad Arifin melaporkan kegiatan bahwa UMSU bersyukur Prof Dr Djaali datang memberikan pemikiran dalam kuliah umum yang bernas.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.