Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara memenuhi undangan Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL), sebuah organisasi perdamaian internasional yang berpusat di Seoul Korea Selatandengan mengirimkan salah seorang dosen Fakultas Agama Islam, Zailani, SpdI, MA guna mengikuti “2nd Annual Cemmemoration of September 18th World Alliance of Religions’ Peace Summit.

Rektor UMSU, Dr. Agussani, MAP mengatakan, kehadiran wakil UMSU sebagai bentuk dukungan terhadap acara dialog perdamaian yang digagas lembaga internasional HWPL. Hal ini juga sebagai sumbangsih UMSU untuk berpartisipasi dalam pemecahan masalah internasional.

“UMSU aktif memenuhi undangan mengikuti kegiatan yang dilaksanakan HWPL dengan mengirimkan dosen sebagai bentuk partisipasi dalam upaya-upaya mendorong perdamaian dunia,” katanya, di Medan, Minggu (25/9).

Menurut dia, sudah menjadi komitmen UMSU untuk terlibat dengan berbagai kegiatan sosial keagamaan termasuk dalam lingkup internasional. Sebagai lembaga pendidikan, UMSU tidak hanya terlibat dalam persoalan di tingkat lokal, dan nasional untuk bangsa dan negara , tapi juga masalah kemanusiaan secara universal.

Dijelaskan dia, keterlibatan dosen UMSU di kegiatan level internasional diharapkan juga akan menambah jejaring dalam membangun kerjasama internasional dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Kerjasama internasional perguruan tinggi sendiri menjadi salah satu poin penting dalam menyikapi tuntutan peraturan pemerintah sekaligus pengembangan kampus menghadapi era pasar bebas.

Lebih lanjut, UMSU juga merasa memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi aktif dalam menyebarkan pesan Islam sebagai agama yang damai dan rahmatan lil alamin. Bukan sekadar hadir memenuhi undangan kegiatan lembaga, tapi juga aktif menggelar dialog.

“Dialog-dialog keagamaan sejenis juga sering dilaksanakan UMSU. Apalagi UMSU memiliki Pusat Studi Islam dan Muhammadiyah (PSIM) dan Fakultas Agama Islam (FAI) yang memang konsen dalam hal tersebut,” katanya.

Sementara itu, Zailani menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan oleh HWPL di Seoul, Korea Selatan, berlangsung pada tanggal 18- 19 September. Kegiatan ini dihadiri para tokoh dunia diantaranya, mantan presiden Kroasia, H, E Ivo Josipovic, mantan Perdana Menteri Armenia, Rt, Hon, Hrant Bagratyan.

Mengutip pendiri organisasi, Mr. Man hee lee, Zailani mengatakan dunia harus damai dan salah satu cara untuk melakuakan perdamaian adalah dengan adanya pertemuan semua tokoh dalam segala sektor agar menyatu menyuarakan perdamaian. Lebih lanjut lagi dia mengatakan bahwa semua agama membawa pesan perdamaian secara universal.

Hal yang lain dilakukan oleh HWPL adalah mengumpulkan seluruh pemimpin dunia untuk membuat kesepakatan dan komitmen bersama dalam membuat draf undang-undang anti peperangan dan diserahkan ke PBB. Maka dibutuhkan dukungan oleh segenap tokoh dunia dan Pemimpin Negara.

Lebih lanjut Zailani mengungkapkan, HPWL sendiri adalah organisasi perdamaian dunia yang cita-cita luhurnya merupakan cita-cita semua umat manusia Dalam forum dialog itu Zailani menjelaskan tentang Indonesia yang juga mempunyai organisasi yang mempunyai cita-cita yang diusung HWPL. Ada FKUB (Forum Kerukunan anatar Umat Beragama yang di dalamnya berkumpul tokoh-tokoh agama, yang selalu melakukan dialog dalam mencari solusi dan problem umat beragama.   Organisasi Islam yang lebih besar di Indonesia, seperti Muhammadiyah, NU, dan organisasi Islam lainnya, Organisasi tersebut adalah adalah garda-garda dalam menjaga perdamaian di Indonesia.

Kegiatan 2nd Annual Commemorationdiisi dengan festival perdamaian, yang dilaksanakan di Olimpic Stadion, seoul, Korea selatan. Acara ini menampilkan seluruh adat- budaya di masing-masing daerah di Korea selatan, dengan memakai pakain simbol masing-masing.Seluruh peserta juga megadakan Peace Walk, berjalan bersama dengan mengelilingi Stadion Olimpic.

“Peace Walk ini adalah symbol bahwa umat manusia, sekalipun berbeda agama, Negara dan budaya bisa hidup berdampingan tanpa ada peperangan dan kekerasan. Begitulah pesan yang tersirat dalam peace tersebut.   Pada hari berikutnya Seluruh tokoh Negara, politik, masyarkat dunia dan akademisi mengikuti conferensi Perdamaian di hotel Grand Intercontenental Parnas, Seoul, Korea Selatan. Pada konferensi ini Diharapakan mencul kesepahaman dan keinginan bersama untuk mendukung diberlakukankannya undang-undang perdamaian dan anti peperangan menjadi salah satu Undang-Undang dalam mengakhiri peperangan didunia, termasuk mencegah terjadi peperangan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.