Masalah lingkungan harus menjadi isu utama di media massa. Untuk itu jurnalis wajib melaporkan kerusakan lingkungan di daerah sekitar kita secara objektif dan mengutamakan kebenaran intelektual, kata Prof Matthew Frank.

Jurnalis dan dosen dari Montana, USA, ini menjelaskan agar laporan lingkungan menarik untuk dibaca khalayak, maka jurnalis harus mengawali tulisannya dengan cara turun langsung ke lapangan bukan menunggu di belakang meja. Selain itu laporan dikemas dengan mengedepankan pengalaman agar menyentuh sisi insani.
“Media massa harus berperan dalam menjaga lingkungan. Saya mengajak jurnalis di Indonesia terus menggerakkan jurnalisme lingkungan agar masyarakat dapat pemahaman tentang lingkungan dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan,” kata Prof Matthew Frank dalam Seminar Internasional bertajuk “Environmental Journalism and Urban Disaster” yang diadakan oleh Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) bekerjasama dengan Konjen AS, di Aula Pascasarjana Jalan Denai Medan, Selasa (29/8). Acara ini dibuka oleh Rektor UMSU Dr Agussani, MAP diwakili WR III Dr Rudianto, M.Si dan dihadiri oleh Pelaksana Tugas Wakil Konjen AS di Medan Maxwell S Harrington, Sekretaris Prodi Magister Ilmu Komunikasi  Rahmanita Ginting, Phd, Ikatan Alumni dan Mahasiswa Magister Ilmu komunikasi UMSU, mahasiswa komunikasi se-Sumur, pers mahasiswa, jurnalis media cetak/elektronik serta organisasi profesi wartawan.

Frank mengapresiasi atas kerja keras jurnalis di Indonesia yang terus melaporkan isu lingkungan dengan berbagai kendala. Dia menyadari jurnalis lingkungan  menghadapi kendala dalam melaporkan gagasan yang independen karena media  lebih mengutamakan sisi komersial.

Frank yang menjadi  pembicara utama dalam acara yang dimoderatori Rahmanita Ginting, Phd menegaskan, perlu kehadiran banyak media independen seperti di Amerika untuk mengatasi masalah lingkungan. Di Amerika, kata Frank, masalah serupa juga dialami sejumlah media lokal. Namun banyaknya media independen di AS dan juga tingginya tingkat kepedulian warga setempat terhadap isu-isu lingkungan membuat isu-isu lingkungan sulit dikendalikan pemilik modal.

Frank mengatakan jurnalis punya kewajiban untuk membuat tulisan yang bisa menggugah sekaligus meningkatkan kepedulian pembaca terhadap isu-isu lingkungan. Dalam hal ini, untuk membuat tulisan menarik soal lingkungan, Frank menyarankan jurnalis untuk mengambil sudut pandang humanis.

Bagi Frank, kisah tentang orang akan menghasilkan resonansi yang kuat terhadap audiensnya. Misalnya, soal polusi laut, jurnalis bisa membuat kisah soal nelayan yang terkena imbas masalah tersebut. Frank menyarankan jurnalis untuk mengkaitkan tulisan soal lingkungan dengan topik kesehatan, perumahan, transportasi, gaya hidup, makanan serta teknologi. Topik-topik itu memiliki sebab akibat dari masalah lingkungan. Dengan demikian definisi jurnalisme lingkungan itu, menurut Frank, sangat luas. Jurnalis dapat mengeksplorasi beragam topik  untuk meningkatkan kesadaran warga pada lingkungan hidup.

Frank mengakui tantangan yang dihadapi para wartawan di Indonesia jauh lebih berat ketimbang di AS. Salah satunya, masalah konflik kepentingan. Frank mencontohkan, perusahaan media bisa memutuskan untuk  memuat berita atau tulisan yang dinilai menyinggung kepentingan perusahaan tertentu yang punya masalah dengan lingkungan. Masalah ini bisa dihindari jika media tak bergantung pada pendapatan iklan dan jurnalis tidak menjadi korban. Namun Frank mengatakan jurnalis jangan putus asa. Dengan perkembangan teknologi komunikasi, lanjutnya, akan menerobos semua pantangan tersebut sehingga gagasan dan laporan jurnalis akan mudah disiarkan.

Wakil Rektor III Dr Rudianto, M.Si dalam pengantar diskusi mengatakan, masalah lingkungan masih isu kelas dua dibandingkan dengan isu politik. Namun dalam hal ini jurnalis tidak bisa disalahkan karena media mengambil peran yang sama. Media bekerja tidak berdiri sendiri dalam mengelola informasi termasuk masalah-masalah lingkungan. Di dalamnya ada faktor jurnalis, ideologi dan pemilik modal sampai faktor eksternal media. Untuk itu Rudianto yang juga mantan jurnalis sempat melemparkan pernyataan kepada Frank dari faktor-faktor itu, mana yang lebih dominan mempengaruhi konten media. Dari situ kita akan dapat melihat bagaimana keseriusan media nasional dan global  termasuk Amerika sendiri dalam menggerakkan jurnalisme lingkungan. Satu hal yang penting bahwa isu lingkungan sering ditarik dalam perspektif politik global. Untuk itu Rudianto berharap seminar internasional ini dapat memotivasi jurnalis dan media massa mengambil peran lebih kuat dalam menggerakkan jurnalisme lingkungan. Begitu juga bagi orang komunikasi, perspektif komunikasi lingkungan menjadi “makanan” dalam aktivitas keilmuan dan riset. Pada akhir acara Rudianto menghadiahkan ulos kepada pembicara dan pejabat Konjen AS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.