Muhammadiyah Masuki Era Pembaruan Jilid II
Ditulis oleh ICT UMSU    Kamis, 15 Juli 2010 09:25    PDF  Array Cetak Array  E-mail

“Muktamar Muhammadiyah ke-46 merupakan momentum sangat penting sebagai langkah awal memasuki era Pembaruan (Tajdid) jilid kedua”, demikian dikatakan Anwar Bakti, Ketua Keluarga Besar Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (KBA-IMM) Sumatera Utara, Sabtu (10/7) sore di Bandara Polonia Medan saat diwawancarai wartawan sepulangnya dari menghadiri Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Mutamar ke-46) di Yogyakarta yang berlangsung dari tanggal 3 s/d 8 Juli 2010 baru lalu.

Lanjut Anwar, apa yang dikatakan Ketua PP Muhammadiyah HM Din Syamsuddin dalam pidatonya pada pembukaan muktamar tersebut sangat tepat, bahwa problem besar bangsa Indonesia saat ini adalah masalah moral yang diistilahkan Din, buta aksara moral bangsa ini yang justru lebih berbahaya daripada buta aksara Latin dan Arab.

“Buta aksara moral sangat berbahaya bagi kelangsungan suatu bangsa, apalagi jika sudah menjangkiti kalangan elite, orang-orang berpendidikan tinggi, pejabat negara, para pengusaha dan orang-orang ‘kelas atas’ sebagaimana dewasa ini kita saksikan korupsi merajalela di negeri ini. Bahkan dilakukan ramai-ramai oleh aparat penegak hukum sendiri seperti Polisi, Jaksa, Pengacara, Hakim dan lainnya sehingga muncul istilah mafia peradilan dan makelar kasus (Markus) seenaknya mempermainkan hukum”, sebut Anwar.

Menurutnya, semua itu terjadi karena bangsa ini sudah tidak memiliki moral lagi sehingga cenderung melakukan perbuatan menyimpang dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tujuan ini bisa berupa kekuasaan, kekayaan, ketenaran dan kepuasan pribadi, termasuk melakukan seks bebas alias berzina, tanpa mengindahkan norma-norma agama, kesopanan dan adat-istiadat.

Selama ini, kata Anwar, Muhammadiyah dikenal sebagai pembaharu dalam segala bidang, terutama memerangi takhayul, bid’ah dan khurafat di tengah-tengah masyarakat. Seperti bid’ah tentang jumlah rakaat shalat Tarawih, Qunut pada shalat Subuh, jumlah azan dalam shalat Jumat, ziarah makam para Wali, pembacaan Talkin saat proses pemakaman jenazah, Tahlilan dan sebagainya, tapi itu sudah bukan prioritas lagi.

“Orientasi pembaruan yang kini dituntut dari Muhammadiyah seperti yang saya istilahkan sebagai Pembaruan jilid II seiring Muhammadiyah memasuki usia abad keduanya adalah memerangi penyakit masyarakat dalam bentuk dan jenis lain, yakni masalah moralitas bangsa yang merosot, kebodohan, kemiskinan dan ketertinggalan agar bangsa ini dapat mencapai peradaban utama”, tandas Anwar.
Untuk itu, tambahnya, Muhammadiyah akan bergandeng tangan dengan ormas-ormas Islam termasuk Nahdlatul Ulama (NU) maupun ormas-ormas lainnya bersama-sama memerangi penyakit masyarakat tersebut dalam upaya mewujudkan masyarakat dan bangsa Indonesia yang maju, sejahtera dan berkeadilan.
Saat ditanya tentang ketidakhadiran Presiden SBY secara langsung di Yogyakarta untuk membuka Muktamar tersebut, melainkan membukanya melalui teleconference dari Madinah, Anwar berkomentar, hal itu tidak mengurangi makna dan kebesaran Muktamar Muhammadiyah ke-46 tersebut. Sebab, sebelum Republik Indonesia ini berdiri, bilang Anwar, Persyarikatan Muhammadiyah sudah besar dan kontribusinya bagi bangsa dan negara ini tak perlu diragukan lagi.***