|
Medan (Analisa), Kalangan kampus hendaknya menjadi contoh. Sumber dari tiap kutipan yang disajikan dalam artikel ilmiah populer supaya tetap dicantumkan. Akademisi jangan sampai jadi plagiator. Sebab, perbuatan plagiat, sangat tercela di kampus maupun dalam dunia pers.
Begitu ungkap praktisi pers War Djamil SH di depan peserta Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah Populer, Pembuatan E-Mail, Facebook dan Webblog di aula FH UMSU, Sabtu (14/8), diikuti 40 dosen dan beberapa mahasiswa UMSU.
Beda
Pencantuman sumber dari kutipan bermakna pengakuan dan penghargaan pihak lain atas karya seseorang. Ini merupakan bagian dari "hak cipta" meski penulis itu tak meminta label hak cipta dari Departemen Kehakiman.
Ada beda, pencantuman sumber kutipan dalam artikel di media dengan sajian jurnal atau majalah ilmiah termasuk skripsi yang berupa catatan kaki maupun daftar kepustakaan.
Dalam media, cukup diterakan pada bagian kalimat dalam suatu paragraf tertentu. Lebih praktis dan tak menyita kolom serta tak jenuh.
Arti penting artikel ilmiah populer, bukan popularitas penulisnya. Melainkan isi artikel yang disumbangkan ke publik sekaligus sebagai informasi dan menambah wawasan publik. Ini sangat bernilai tinggi.
Melalui topik "Standar Penulisan Artikel Ilmiah di Media Massa", sekretaris redaksi "Analisa" ini mengungkapkan beberapa ketentuan yang patut menjadi perhatian dosen dan mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah populer.
Mudah Dipahami
Selain struktur artikel yang terdiri dari beberapa bagian, juga tentang panjang atau batasan ruang/kolom, seumpama 4 lembar A4 komputer. Ada media yang menentukan panjang artikel sekitar 4 lembar. Ada pula maksimal 5 ribu atau 7 ribu karakter.
Hal penting, harus ditulis secara populer. Artinya, untaian kata/kalimat dalam artikel ini, mudah dipahami publik. Jangan lupa, segmentasi pembaca media itu beragam.
Dengan latar belakang usia, pendidikan dan tingkat wawasan yang berbeda, artikel ilmiah populer tidak diberati dengan istilah atau rumus seperti artikel ilmiah yang memang tergolong berat". Tetapi, satu dua istilah dengan padanan, sehingga mudah dicerna", ucapnya.
Adalah sia-sia, media menyajikan artikel ilmiah populer, tetapi sebagian besar publik yang membaca, tak memahami content atau isi yang diutarakan penulis.
Dari sisi lain, patut diperhatikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengikuti norma atau kaedah yang berlaku. Jangan asal pilih apalagi pemakaian kata jalanan, sehingga ikut merusak bahasa Indonesia.
Artikel ilmiah populer harus merupakan artikel yang bernilai atau bermartabat. Jangan diselipkan bahasa jalanan. Sebab "bahasa gaul" hanya untuk praktis dan keakraban sehari-hari. Tetapi, predikat "ilmiah" yang menempeli artikel itu, seharusnya dijaga.
"Jadi, artikel itu harus kredibel", ucap War Djamil gamblang.
Motivasi
Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Drs.Agussani MAP saat membuka pelatihan itu mengatakan, pelatihan ini penting untuk meningkatkan kualitas para dosen dan mahasiswa dalam menulis artikel ilmiah populer.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari program FH UMSU sejalan dengan peningkatan iptek, sehingga para dosen dan mahasiswa FH UMSU mampu mengikuti dinamika yang ada serta memiliki wawasan yang senantiasa aktual", ungkap Dekan FH UMSU Farid Wajdi SH,MHum pada pengantar pembukaan pelatihan.
Narasumber lain dalam pelatihan ini yakni Drs.H.Armansyah MM, Sumantri SPd/Muhammad Riza SSos, Suhrawardi K.Lubis,SH,SpN, MH dan Dedi Syahputra Redaktur Skh. Waspada. (maf)
|